teruntuk kawanku…
May 30, 2007 at 9:20 am | In untuk kawan | 2 Commentssedang merindukan seorang kawan. yang selalu bercengkrama dalam gelapnya box yang sedang dihuni.yang selalu mencoba keluar sejenak dari box untuk kemudian menemukan box baru yang lebih layak.yang selalu mencoba bertahan dalam box.yang selalu mencoba meraba ini nyata ato fatamorgana.yang selalu saling mencoba membangunkan dari mimpi indah yang fana.
selama kita masih berdiri di atas bumi yang sama,dan beratapkan langit yang sama,dan bertuhan yang sama,kan selalu merindumu,kawanku………
merindumu…sangat!
suatu siang di kentungan (isme-isme di perempatan jalan)
May 30, 2007 at 6:42 am | In mbuh.. | 4 CommentsKuning, merah dan kunantikan hijau..
Terik, panas dan kunantikan teduh..
Penat, jenuh, lelah dan kunantikan tenang..
Pagi, siang, sore dan kunantikan malam..
Suatu siang di perempatan Kentungan, aku berkeluh kesal karena lampu merah itu menghalangi jalanku, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Bisa dibayangkan betapa terik matahari menyengat kulitku. Kesal dicampur dengan tugas kuliah yang semakin menumpuk. Rasanya hari itu benar-benar kelam, seluruh tenagaku seakan sudah terkuras habis, dan masih harus ada yang tersisa untuk mengantarkan tubuhku sampai dirumah. Tapi aku cukup puas, hampir bersamaan dengan bangunnya matahari pagi tadi, akupun sudah memulai hari, kuliah sejak pagi, mengerjakan tugas, baca buku di perpustakaan, dan mencari informasi di internet. “Hariku cukup terisi dengan perjuangan!”, batinku bangga.
Yang kunantikan datang, saat warna merah lampu lalu lintas berganti hijau. Hampir bersamaan dengan melajunya sepeda motorku, aku melihat seorang bapak yang kurasa kukenal, ehmmm, siapa ya…sekilas perhatianku tertuju pada sesosok bapak tua, tak kulihat punggungnya, karena dia memanggul tempat tidur kayu.Ya, tempat tidur kayu yang berukuran double. Kuikuti rasa penasaranku dengan mengikuti bapak itu. Rasa penasaran karena seakan aku tak asing dengannya, membuatku nekat menerobos lautan kendaraan untuk dapat menepi dibahu jalan. Kudekati tubuh yang seolah penuh dengan peluh, tapi tak ada rona jenuh ataupun mengeluh yang kudapati saat menatap wajahnya. Aku turun dan memakirkan motorku di depan sebuah toko handphone, ku berlari dan berteriak:”Pak…”, bapak itu menoleh, dan seakan ikut menyapa, terlihat keringat yang mengucur dari dahinya.
Bapak itu, ya, bapak yang menjual kursi lincak (anyaman-red) di rumahku. Di siang itu, aku berbincang dengannya, sambil “menjamu”nya dengan segelas teh dan semangkuk soto.
“ Saya baru saja dari Gentan, yaah,masih belum laku juga nak. Sudah seminggu ini saya angkut tempat tidur ini,” beliau mulai membuka cerita.
Dari gentan? Dan sudah seminggu mengangkut tempat tidur kayu itu? Sudah berapa kilometer, atau bahkan berapa puluh kilometer yang sudah di tempuh dengan beban tempat tidur kayu itu, double lagi. Tanpa bermaksud membandingkan nilai sebuah perjuangan dengan pikiran, tenaga ataupun kemampuan, tapi apa yang sudah kulakukan dan cukup bangga dengan itu untuk dikatakan perjuangan? Berangkat kuliah dengan sepeda motor, tinggal duduk dikursi jok sepeda motor yang empuk, sedikit memainkan gas dan pedal rem, maka sampailah di kampus. Kuliah duduk diruang yang nyaman tanpa terjangan terik matahari, dan itupun hanya beberapa jam. Baca buku di perpustakaan dengan ac yang memanjakan tubuh. Ke internet dan memainkan jari, kerjakan tugas dengan duduk manis di depan monitor komputer. Bapak itu bahkan lebih berjuang. “Perjuanganku belum ada apa-apanya!”batinku malu.
“Kasihan anak-anak, uang jajan sekolahnya kurang terus, apalagi kalau tempat tidur ini semakin lama tidak ada yang beli, uang dapur buat Ibu harus ikut dipotong juga,” lanjutnya bercerita. Nuraniku terisindir keras, tempat tidur di kamarku yang jelas bukan dari kayu, dan memang lebih empuk dan nyaman, juga pastinya lebih mahal. Aku terbayang andai saja bapak ini lewat depan rumahku, dan menawarkan tempat tidur kayu yang diangkutnya, mungkin akan dengan cepat ditolak. Tanpa lebih dulu memberikan waktu sejenak untuk setidaknya melihat dan menghargai keringat dan jerih payah usahanya mengangkut tempat tidur kayu itu. Lebih sering keluargaku tentu memilih datang ke mal atau toko rumah tangga yang besar, memilih tempat tidur yang modern walau lebih mahal, walau mungkin diproduksi oleh pabrik luar negeri yang membuka cabang di Indonesia, dengan pemilik saham, tuan-tuan konglomerat yang jarang mereka adalah pribumi asli atau keturunan dari kakek nenek mereka yang dulu ikut mengangkat senjata mengibarkan merah putih agar dapat berteriak:”Merdeka!”. Sangat mungkin juga dipabrik itu beribu-ribu pemuda pemudi pribumi yang menjadi buruh dengan prosentasi perbandingan penghargaan kerja mereka yang rendah dibandingkan bos-bosnya. Dan lebih mungkin sebagian uang dari harga mahal itu lari ke para pemodal perusahaan, investor asing.
“Bapak sudah coba buka toko buat jual tempat tidur kayu, kursi lincak (anyaman), meja atau lemari. Tapi modalnya kurang, belum lagi orang-orang lebih milih toko yang bagus dan besar, dan barangnya lebih canggih,”cerita lanjutnya. Mungkin Bapak sudah coba pinjam ke bank, prediksiku. Tapi bank mana yang nekat memberikan kucuran dana dengan keadaan Bapak yang tidak punya pekerjaan tetap, penghasilan bulanan ataupun jaminan kekayaan. Atau mungkin Bapak juga bisa minta ke pemerintah untuk modal usaha? Negara macam Indonesia yang bahkan untuk membayar hutangnya juga masih kelabakan, yang pejabatnya korup? Lebih mungkin kalau ada dana semacam itu, tentu akan habis di korupsi. Dan daripada ngurusi seorang bapak tua yang tidak prospektif, dan sangat kecil kontribusinya untuk pemasukan devisa negara, pemerintah jelas lebih sudi berlutut memohon agar investor asing mau menanamkan modal di Indonesia, setidaknya pemasukan kas negara akan bertambah, walau berarti harus mematikan Usaha Kecil Menengah rakyat, apalagi usaha cukup sangat kecil seperti bapak ini, keringat dan tenaganya harus diobral semurah mungkin demi sesuap nasi untuk dapat berhan hidup dan menghidupi keluarga.
Tidak dibayangkan kalau saja aku tidak hanya bertemu Bapak penjual tempat tidur kayu. Tapi juga bertemu Nenek penjual sayur yang selalu berlomba dengan matahari untuk memulai hari pergi ke pasar, dan juga bertemu dengan Ibu pedagang buah di pasar tradisional, atau juga bertemu dengan Bapak petani yang membawa sekarung pupuk dengan sepeda onthelnya, dan entah akan bertemu dengan siapa lagi. Kalaupun bertemu belum tentu aku akan berhenti dan sedikit meluangkan waktu untuk mengobrol, memahami kondisi dan keluh kesah mereka, atau bahkan memasuki kehidupan mereka.
Ditengah arus globalisasi (modernisme) yang tanpa sadar menyeret setiap manusia yang hidup di zamannya, coba melampaui diri sendiri dengan memperhatikan hidup orang lain (sensitivisme) menjadi hal tabu untuk dilakukan, untuk apa seolah menjadi orang lain, hidup sendiri saja belum tentu (individualisme), masa bodoh ada mega mal besar dengan menggusur /mematikan pasar tradisional (liberalisme), untuk apa membandingkan Bapak penjual tempat tidur kayu yang tidak punya modal dengan investor asing (kapitalisme), peduli apa kalau anak Bapak itu suatu saat putus sekolah/tidak bisa melanjutkan studi karena mahalnya biaya pendidikan (Komersialisme), kenapa pula harus mempertimbangkan perjuangan, pengorbanan, nilai atau apapun namanya saat akan membeli barang tertentu (materialisme), dan peduli apa dengan Bapak penjual tempat tidur, Nenek penjual sayur, petani, pedagang atau siapapun(humanisme)?
Aku cukup malu dan tersipu, salut akan apa yang dilakukan Bapak itu, yang mungkin banyak orang akan mengatakan dia ketinggalan zaman, tanpa memberikan kesempatan untuk coba memikirkan mungkin zaman yang telah meninggalkan manusia-manusia seperti mereka. Ataukah memang kehidupan yang tidak berpihak pada hidup mereka? Ataukah memang setiap zaman akan meminta korban sebagai tumbal jayanya suatu peradaban? Ataukah memang seiring cepatnya waktu berlalu, semakin panjang dan tinggi pula kesenjangan terjadi? Ataukah memang industrialisasi dengan majunya teknologi harus membagi manusia pada kelas-kelas yang berbeda strata? Ataukah memang harus cerita ini diakhiri?
“Terima kasih untuk es teh dan sotonya, sudah sore, Bapak harus jalan lagi,,,” kalimat terakhirnya menutup cerita. Sesaat kemudian berlalu sambil memanggul tempat tidur kayu menembus arus lalu lintas yang bergerak cepat. Dari kejauhan aku masih dapat melihat tempat tidur kayu itu berjalan pelan menyusuri jalan, sementara disisi lain jalan, didepan sebuah toko besar, mobil pick-up mengangkut tempat tidur yang bukan dari kayu, melebur dalam arus jalan raya, kemudian diikuti dengan sebuah mobil sedan mewah. Aku pun pergi dengan membawa sebuah cerita, tentang suatu siang di Kentungan.
Kemarin, hari ini dan kunantikan esok..
Bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan kunantikan tua..
Lahir, besar dan kunantikan mati..
Kesenjangan, diskriminasi, penindasan dan kunantikan keadilan..
by :Elmo
kisah seorang pendo’a
May 25, 2007 at 11:32 am | In mbuh.. | 1 CommentKetika kumohon kepada Allah kekuatan…
Allah memberiku kesullitan agar aku menjadi kuat
Ketika kumahon kepada Allah kebijaksanaan…
Allah memberiku masalah untuk kupecahkan
Ketika kumohon kepada Allah kesejahteraan…
Allah memberiku akal untk berfikir
Ketika kumohon kepada Allah keberanian…
Allah memberiku kondisi bahaya untuk kuatasi
Ketika kumohon kepada Allah sebuah cinta…
Allah memberiku orang-orang bermasalah untuk kutolong
Ketika kumohon kepada Allah bantuan…
Allah memberiku kesempatan
Aku tak pernah menerima apa yang kupinta
Tapi aku menerima segala hal yang kubutuhkan
Do’aku terjawab sudah..
by :Zoel…ita
masih terus nyari…
May 25, 2007 at 7:52 am | In mbuh.. | 3 CommentsSemua orang melakukan perjalanan dalam pengembaraannya menuju kebenaran. Ada yang menemukan jalan dengan begitu mudah, meyakini kebenarannya dan istiqomah didalamnya. Tidak sedikit yang mengalami pencarian yang penuh liku, panjang, meski tetap dengan keyakinan tinggi pada tujuan yang akan ditemuinya. Keduanya adalah proses yang jauh lebih baik ketimbang mereka yang diam dalam ketidakberdayaan. Merasa aman dalam lingkaran status yang jelas-jelas mengukung sumber daya akal yang difitrahkan kepadanya. Tapi terkadang kita temukan pada baris-baris kebenaran, sesuatu yang sangat naïf. Klaim-klaim yang tak layak yang mereka sematkan pada diri dan bangunan kebenaran itu. Bagi seorang pencari tentu saja hal tersebut menjadikan mereka harus lebih bijak dalam memilih, apakah itu suatu keniscayaan atau hanya kepalsuan yang terbungkus dalam kain sutra yang indah. Selain itu sang pencari harus juga melihat dengan benar, memilah, menyaring untuk kemudian memilih satu diantara tawaran-tawaran kebenaran yang datang padanya. Tentu saja bahwa tidak selamanya pilihan yang dia ambil adalah kebenaran yang tak pernah salah, pintu-pintu kesalahan tetap terbuka karena bangunan kebenaran ini adalah kumpulan-kumpulan manusia yang mencoba menginterprestasikan pesan-pesan Sang Pemberi Rahmat dan utusan-utusanNya. Kumpulan ini tentu saja akan dirasuki oleh kesalahan dan kealfaan yang merupakan bagian asasi dari dirinya. Dan itu adalah sebuah kewajaran.
Kewajaran akan keterbatasan inilah yang seharusnya menyelubungi setiap potensi berpikir manusia. Kesadaran akan kewajaran ini akan membantu manusia memahami keadaan dunia dengan semua derivasinya. Sikap saling menyalahkan dan merasa paling benar menjadi barang yang asing karena mereka sadar akan fitrah yang diberikan Sang Pembolak-balik hati. Kesadaran akan kewajaran dan kekurangan setiap manusia dengan barisan bangun kebenarannya membuat setiap diri memahami pentingnya kesatuan barisan untuk mencapai tujuan bersama. Tujuan mulia atas tertancapnya nilai-nilai Robbani dialam semesta.
Yang menyedihkan kadangkala mucul dari sedikit orang-orang yang sudah menemukan kebenaran. Dengan perasaan jumawa menegasikan peran bangunan lain dalam kesatuan perjuangan umat Muhammad….
Tapi mengapa kalian tidak pernah bersinergi untuk tujuan yang jelas-jelas sama…..
by : Anynomous
ekstradisi
May 23, 2007 at 8:59 am | In komen saya.. | Leave a CommentB eberapa waktu yang lalu, kata ekstradisi sering terdengar. Hal ini tak lain dan tak bukan adalah karena adanya perjanjian ekstradisi antara RI-Singapura. Perjanjian ekstradisi sendiri menurut pasal 1 UU 1/1979 tentang ekstradisi adalah penyerahan oleh suatu Negara kepada Negara yang meminta penyerahan seseorang yang disangka atau dipidana karena melakukan suatu tindak pidana di luar wilayah yang menyerahkan dan di dalam yurisdiksi wilayah Negara yang meminta penyerahan tersebut.
Latar belakang utama perjanjian ekstradisi RI-singapura adalah tak lain dan tak bukan karena banyaknya tikus-tikus kantor Indonesia yang menjadikan singapura sebagai surga persembunyian diri mereka beserta harta jarahannya untuk kemudian diinvestasikan di Singapura.
Yang akan saya bahas di sini adalah dampak politisnya. Bukan karena apa-apa,hanya saja saya lebih merasa nyaman jika berbicara dampak politis, bukan dampak hukum ataupun perjanjian international.
Dalam politik international,khususnya diplomasi, ada prinsip “ there is no such a free luch” atau “this for that “ istilah gampangnya “ndak ada yang gratis”. Maka kemudian ketika RI-Singapura mengadakan perjanjian,haruslah kita waspadai dampak2 selanjutnya, mengingat posisi Singapura lebih tinggi dalam persoalan ekstradisi dibandingkan Indonesia yang lebih membutuhkan. Tentunya singapura tidak akan begitu saja menyetujui ekstradisi yang dituntutkan tanpa scenario tertentu. Juga jangan berharap terlalu banyak untuk segera memulangkan para tikus. (bukan su’udzhon, tapi waspada.. :p).
Prinsip “this for that “ tampaknya telah terterapkan pada perjanjian pertahanan RI-Singapura. Ketentuan yang pokok dalam perjanjian pertahanan tersebut adalah singapura,dengan pihak ketiga(sekutunya) bisa berlatih di beberapa wilayah udara,darat,dan laut Indonesia. Pihak ketiga bisa AS,Australia,English. Bahkan AS bisa saja kemudian mengajak Israel sebagai sekutunya. Meskipun secara diam –diam.
Meskipun pengaturan tempat latihan di Indonesia menurut yuridikasi kita,namun kita bisa memperkirakan lemahnya pihak TNI dalam memperoleh akses latihan oleh singapura dkk. Ini akan sangat berdampak pada kedaulatan dan rahasia pertahanan keamanan. Dari segi kemampuan, militer singapura dan pihak ketiga akan menjadi sangat berpengalaman dalam tempur di hutan tropis atau wilayah kepulauan.
Azas reciprocality menjadi sangat tidak imbang karena imbalan bagi Indonesia untuk berlatih di singapura seperti tidak ada gunanya. Memangnya Indonesia kekurangan tempat latihan?
Beberapa hal lainnya, adalah bisa dipastikan Indonesia mencabut “larangan tidak resmi” yang isinya tentang penahanan beberapa tongkang yang akan membawa pasir dan granit ke singapura. Dengan pencabutan larangan tersebut, singapura akan terjamin melakukan perluasan wilayah dengan pasir dan granit Indonesia.
Tentunya perluasan wilayah Singapura akan kea rah Indonesia, tidak ke arah Malaysia, karena Indonesia adalah soft state. Bahkan mungkin tida sekedar soft, ia sudah mlenyek.
// disarikan dari makalah Harwanto Dahlan, dalam seminar tentang perjanjian ekstradisi Indonesia-singapura,FH UII,jumat 11 mey 2007
Solusi dari ini tentulah ada. Indonesia butuh seorang pemimpin yang berani. Berani bertindak. Berani mengambil keputusan.
Namun, permasalahan Indonesia tak hanya persoalan perjanjian ini, masih banyak permasalahan yang harus diselesaikan.Dan tentunya untuk menyelsaikan complex problem di state ini, tidak hanya butuh seorang pemimpin yang berani. Tapi juga sebuah system yang berani. Dan islam adalah sebuah system yang paling berani untuk kemudian direalisasikan dalam sebuah negeri.
transformasi..
May 9, 2007 at 8:54 am | In mbuh.. | 2 Commentskata seorang teman, islam itu men”transformasi”kan bukan mer”ubah”. kedatangan islam di indonesia juga tidak kemudian merubah budaya indonesia.hanya mentransformasikan budaya yang telah ada ke dalam budaya islam.
seperti yang terjadi dalam Object oriented programming -OOP.red-, ada sebuah konsep bernama pewarisan. dalam OOP, jika saya mempunyai sebuah lingkaran, saya bisa mentranformasikan lingakran tersebut menjadi sebuah bola,kerucut atau tabung. saya tidak perlu mengubah bentuk dasar dari lingkaran tersebut. hanya mentranformasikan. sesuai dengan yang saya inginkan.
begitu juga dengan halnya dengan hidup. hidup merupakan suatu objek. kehidupan manusia saat ini fitrah adanya. manusia pun semua sama. tidak perlu mengubah kehidupan manusia. hanya mentransformasikan kehidupan manusia menggunakan method islam. karena hanya islam yang mampu mengembalikan hidup manusia sesuai fitrahnya.
seorang umar bin khattab,seorang preman pasar pada zaman itu. saat mengenal islam,tidak kemudian dia melepaskan jati dirinya sebagai preman. dia hanya mentransformasikan kepremanannya ke <klo kata pak opik> “koridor kebenaran”.
maka kemudian,ketika dunia sudah ndak lagi mengenal islam, ketika dunia sudah menanti kehancurannya, sudah saatnya islam untuk mentranformasikan nilai-nilai yang sudah ada. dan tranformasi seharusnya lebih mudah dibanding dengan merubah. dan ketakutan-ketakutan yang muncul ketika nilai islam diterapkan,adalah sebuah ketakutan tak beralasan.
manusia
May 9, 2007 at 8:19 am | In mbuh.. | Leave a Commentmanusia. selalu sama. tak peduli dari zaman SM hingga zaman 2007 M. semua manusia sama. software dan hardware nya sama. Allah menciptakan semua manusia sama.
manusia terdiri dari naluri(ghorizah), kebutuhan pokok(hajatul udhowiyah-HU) dan akal.
{ naluri manusia ada tiga: 1. naluri Na’u = rasa mencintai dan menyayangi, 2. naluri baqa’= eksistensi diri, 3.naluri tadayyun=penghambaan diri. sifat dari naluri ini pemancingannya bisa dari eksternal maupun internal. emosi, bisa saya sebut sebagai naluri. maka ketika ada orang yangmencintai, yang marah-marah,yang ingin menikah,yang ingin lulus cumlaude,yang merasa kecil di depan tuhannya,yang takut ma bosnya,dll, maka itu adalah naluri. dan itu lumrah adanya.
setiap manusia mempunyai yang namanya tiga naluri tadi. hanya saja,tiap manusia mempunyai proporsi yang berbeda. ada yang naluri nau’nya tinggi,sehingga rasa kasih sayangnya lebih tinggi dibanding manusia yg lain. dan ada juga yang naluri baqo’nya lebih tinggi di banding naluri yang lain.begitu juga dengan naluri tadayyun. }
{
selain naluri,manusia juga di bekali hajatul udhowiyah-HU (kebuthan pokok). berbeda dengan ghorizah,HU harus dipenuhi.karena, kalo tidak,manusia bakalan mati. kebutuhan pokok adalh kebutuhan yang hadir dari dalam diri manusia. exp: makan,tidur,buang kotoran,dll
}
{
hal yang membedakan antara manusia dengan binatang adalah akal. binatang juga mempunyai ghorizah dan HU. tapi binatang ndak punya akal. maka kata aristoteles,manusia adalah binatang yang berfikir.
}
siapapun manusianya,dimanapun manusianya,kapanpun manusianya hidup. manusia tetap manusia. mempunyai potensi yang sama. hanya pengolahannya yang berbeda. maka sebagai seorang muslim,semestinya,seidealnya,dan sewajarnya, pemenuhan naluri dan HU manusia menggunakan akal yang dibangun berdasarkan sebuah ideolgi yang sempurna yaitu islam saja.
Queue (antrian)
May 9, 2007 at 5:19 am | In Informatic | 12 CommentsMerupakan kumpulan data yang penambahan elemennya hanya bisa dilakukan pada sisi belakang dan penghapusannya hanya bisa dilakukan pada sisi depan. Konsep utamanya berkebalikan dari stack (tumpukan), yaitu First In First Out. Contoh : orang antri beli tiket ke kebun binatang, Mahasiswa antri bayar KRS. Implementasi antrian menggunakan dua pointer, yaitu pointer yang menunjukkan elemen terdepan dan elemen terakhir
Operasi antrian
1. Menambah elemen baru pada bagian belakang antrian
2. Menghapus elemen baru pada bagian depan antrian
3. Melakukan pengecekan apakah antrian kosong. tidak mungkin menghapus antrian yang sudah kosong.
CONTOH PROGRAM USING C++ :
unit antrih.h
# include <iostream.h>
# include <stdlib.h>
# include <conio.h>
# define alamat Elemen*
// inisialisasi type data dan variable serta fungsi yang dibutuhkan
typedef char tInfo;
typedef struct Elemen
{
tInfo Info;
alamat Berikut;
}tElemen;
typedef struct tagAntrian
{
alamat kepala;
alamat ekor;
} Antrian;
void inisialisasi(Antrian* Q);
void enQueue(Antrian* Q, tInfo info);
void deQueue(Antrian* Q, tInfo* Info);
int queueKosong (Antrian Q);
//insisialisasi antrian
void inisialisasi(Antrian* Q)
{
Q->kepala = NULL; //kepala antrian bernilai null;
Q->ekor = NULL; //ekor antrian bernilai null;
}
// Operasi enqueue
void enQueue(Antrian* Q, tInfo info)
{
alamat P; // tipe data P adalah alamat
P = new Elemen; //(alamat) malloc(sizeof(alamat));
if (queueKosong(*Q))
{
P->Info = info; //elemen Info berisi info
P->Berikut = NULL; //elemen Berikut bernilai null
Q->ekor = P; // ekor antrian berisi P
Q->kepala = Q->ekor; // kepala antrian berisi ekor antrian
}
else
{
P->Info = info;
P->Berikut = NULL;
Q->ekor->Berikut = P; //ekor antrian berikut bernilai P
Q->ekor = P; //ekor antrian berisi P
}
}
// Operasi dequeue
void deQueue(Antrian* Q, tInfo* Info)
{
alamat P;
P = Q->kepala;
*Info = P->Info;
if ((Q->kepala) == (Q->ekor))
{
Q->kepala = NULL;
Q->ekor = NULL;
}
else
{
Q->kepala = Q->kepala->Berikut;
// kepala antrian berisi kepala antrian berikutnya
}
free(P);
cout<<endl;
}
//
int queueKosong(Antrian Q){
return ((Q.kepala==NULL) && (Q.ekor==NULL));
}
unit antrih.cpp
# include <iostream.h>
# include <stdlib.h>
# include <conio.h>
# define alamat Elemen*
# include <antrih.h>
//untuk menampilkan antrian
void tampilQueue(Antrian Q)
{
alamat P = Q.kepala;
cout << “Isi queue : “;
while ((P!=NULL)) {
cout << P->Info << ” – “;
P = P->Berikut;
}
cout << “\n”;
}
// untuk mencetak menu
void cetakMenu(){
cout << “***CONTOH ANTRIAN***”;
cout << “\n 1. Tambah elemen\n”;
cout << “ 2. Hapus elemen\n”;
cout << “ 3. Cetak antrian\n”;
cout << “ 4. Selesai\n\n”;
}
// Program utama
int main()
{
Antrian Q;
int selesai;
int pilMenu;
tInfo elm;
inisialisasi(&Q);
selesai = 0;
do
{
clrscr;
cetakMenu();
cout << “Menu yg dipilih : “;
cin >> pilMenu;
switch(pilMenu) {
case 1 : cout << “\nMasukkan elemen yg ditambahkan : “;
cin >> elm;
enQueue(&Q,elm);
break;
case 2 : if (queueKosong(Q))
{
cout << “\nAntrian kosong, tidak bisa dihapus\n”;
}
else
{
deQueue(&Q, &elm);
cout << “\nElemen yang dihapus : ” << elm << “\n”;
}
break;
case 3 : tampilQueue(Q);
break;
default : selesai = 1;
}
}
while ( !selesai );
return 1;
}
stack (tumpukan)
May 9, 2007 at 5:06 am | In Informatic | 2 CommentsDefinisi stack sebenernya sangat sederhana. Yaitu data yang diletakkan diatas data lainnya. Dalam stack kita bisa menambah,menyisipkan dan menghapus data. Contoh stack dalam kehidupan sehari-hari bisa kita lihat dalam tumpukan piring. Konsep utama stack ini adalah Last In First Out.
Satu hal yang perlu diingat adalah bahwa didalam suatu tumpukan dapat menambah (menyisipkan) data dan mengambil (menghapus) data lewat ujung yang sama yang disebut sebagai ujung atas tumpukan.
Secara sederhana sebuah tumpuykan bisa digambarkan seperti tersaji pada gambar 6.1. Dari gambar tersebut dapat dikatakan bahwa kotak B berada di atas kotak A dan ada di bawah kotak C. Gambar ini hanya menunjukkan bahwa dalam tumpukan hanya dapat menambah atau mengambil sebuah kotak melalui satu ujung, yaitu ujung bagian atas. Dapat dikihat pula bahwa tumpukan merupakan kumpulan data yang sifatnya dinamis, artinya dapat menambah dan mengambil data dari kumpulan data tersebut.
|
|
|
F |
|
E |
|
D |
|
C |
|
B |
Gambar 6.1. Tumpukan terdiri 6 kotak
Penyajian stack bisa menggunakan array, namun kurang tepat. Array bisa digunakan kalau elemen stack tidak melebihi batas maksimum. Tipe yang bisa digunakan adalah record. Manipulasi dengan menggunakan record mempunyai dua medan, yaitu medan penyimpanan elemen tumpukan dan medan pencatat posisi ujung atas tumpukan.
3.2.1.a Operasi stack
Dalam Stack terdapat dua operasi, yaitu :
- Menyisipkan data (PUSH)
Menambahkan / menyisipkan data ke dalam stack. Kita tidak bisa menambahkan data pada tumpukan yang sudah penuh (overflow).
Algoritma :
if t.atas = maxelemen
cout << ”sudah penuh ”;
else
{
// naikkan posisi tumpukan
// tambah isi tumpukan
}
2. Menghapus data (POP)
Menghapus elemen yang ada di posisi paling atas. Menghapus posisi juga akan menghapus elemen. Kita tidak mungkin menghapus elemen ketika tumpukan sudah kosong. (t.atas = 0)
Algoritma :
if t.atas = 0
cout << ”tumpukan kosong ”;
else
{
// kurangi t.atas;
}
contoh program using C++:
unit tumpukan.h
# include <iostream.h>
# include <stdlib.h>
# include <conio.h>
# define alamat Elemen*
// inisialisasi data dan fungsi yang dibutuhkan
typedef char tInfo;
typedef struct Elemen
{
tInfo Info;
alamat Berikut;
}tElemen;
typedef struct tTumpukan
{
alamat atas;
} Tumpukan;
void inisialisasi(Tumpukan* T);
void Push(Tumpukan* T, tInfo info);
void Pop(Tumpukan* T, tInfo* Info);
int tumpukanKosong (Tumpukan T);
//insisialisasi tumpukan
void inisialisasi(Tumpukan* T)
{
T->atas = NULL;
T->bawah = NULL;
}
//Operasi Push
void Push(Tumpukan* T, tInfo info)
{
alamat P;
P = new Elemen;//(alamat) malloc(sizeof(alamat));
P->Info = info;
if (tumpukanKosong(*T))
{
P->Info = info;
P->Berikut=NULL;
T->atas =P;
}
else
{
P->Info = info;
P->Berikut = T->atas;
T->atas =P;
}
}
// Operasi Pop
void Pop(Tumpukan* T, tInfo* Info)
{
alamat P;
P = T->atas;
*Info = P->Info;
T->atas = T->atas->Berikut;
free(P);
}
// inisialisasi tumpukan kosong
int tumpukanKosong(Tumpukan Q){
return ((Q.atas==NULL));
}
unit tumpukan.cpp
# include <iostream.h>
# include <stdlib.h>
# include <conio.h>
# define alamat Elemen*
# include <tumpukan.h>
// untuk menampilkan atau mencetak tumpukan
void tampilTumpukan(Tumpukan T)
{
alamat P = T.atas;
cout << “Isi stack : “;
while ((P!=NULL)) {
cout << P->Info << ” – “;
P = P->Berikut;
}
cout << “\n”;
}
// untuk mencetak menu utama
void cetakMenu(){
cout << “***CONTOH TUMPUKAN***“;
cout << “\n 1. Tambah elemen\n”;
cout << “ 2. Hapus elemen\n”;
cout << “ 3. Cetak tumpukan\n”;
cout << “ 4. Selesai\n\n”;
}
// program utama
int main()
{
Tumpukan T;
int selesai;
int pilMenu;
tInfo elm;
inisialisasi(&T);
selesai = 0;
do
{
clrscr;
cetakMenu();
cout << “Menu yg dipilih : “;
cin >> pilMenu;
switch(pilMenu) {
case 1 : cout << “\nMasukkan elemen yg ditambahkan : “;
cin >> elm;
Push(&T,elm);
break;
case 2 : if (tumpukanKosong(T))
{
cout << “\nTumpukan kosong kosong, tidak bisa dihapus\n”;
}
else
{
Pop(&T, &elm);
cout << “\nElemen yang dihapus : ” << elm << “\n”;
}
break;
case 3 : tampilTumpukan(T);
break;
default : selesai = 1;
}
}
while ( !selesai );
return 1;}
Mother of knowledge
May 9, 2007 at 3:31 am | In mbuh.. | 3 Comments“saya tidak tahu,dari mana, sejak kapan, ada istilah ilmu agama dan ilmu umum” ujar fathul wahid dalam suatu acara yang digelar oleh empat elemen dakwah FTI, selasa lalu.
Menarik sekali ketika saya mengikuti suatu diskusi public yang membahas tentang dikotomi ilmu dan agama. Banyak hal di bahas di sana. Salah satunya dan yang terpentin g adalah tentang dikotomi ilmu. Saat ini, banyak orang berpandangan dan berpendapat bahwa ilmu terbagi dua, yaitu ilmu agama dan ilmu umum. Ilmu agama adalah ilmu yang mempelajari tentang agama. Dan ilmu umum adalah ilmu yang mempelajari hal-hal yang umum, yang kemudian biasanya mempelajari hal-hal di luar ilmu agama. Wacana seperti ini telah mewabah ke seluruh penjuru dunia. Hingga kemudian wacana yang selanjutnya yang muncul adalah bahwa seorang scientist biasanya ndak ahli agama. Dan seorang rohaniwan biasanya gaptek. Maka kemudian jika ada seorang yang ahli di keduanya, itu tampak sangat amazing!wonderfull!! ndak biasanya, dan bukan orang biasa. Sampai-sampai mbah enstein pun bilang klo “ilmu tanpa agama agama,buta. Agama tanpa ilmu,lumpuh.”
Padahal , masih kata om fathul , bahwa, di dalam islam, ndak ada istilah ilmu agama dan ilmu umum. Islam hanya mengajarkan satu kata yaitu : ILMU. Ndak kurang dan ndak lebih. Disini bisa saya ambil kesimpulan bahwa antara agama dan ilmu bukan suatu hal yang harus dipisahkan. Istilah yang digunakan oleh pak fathul adalah “mengawinkan” antara ilmu dan agama. Namun, menurut saya, bukan mengawinkan, tapi, melahirkan. Semestinya agama menjadi induk ato akar yang mempunyai anak-anak bernama ilmu. Sehingga ilmu yang akan dilahirkan tetap membawa gen-gen dari agama. Sehingga lagi, ndak mungkin ilmu tersebut terpisah dari agama.Dan islam sebagai agama sudah mampu,sudah mapan,dan sudah lengkap dan sudah sempurna untuk kemudian menjadi mother of knowledge.
Blog at WordPress.com. | Theme: Pool by Borja Fernandez.
Entries and comments feeds.