suatu siang di kentungan (isme-isme di perempatan jalan)

May 30, 2007 at 6:42 am | Posted in mbuh.. | 5 Comments

Kuning, merah dan kunantikan hijau..

Terik, panas dan kunantikan teduh..

Penat, jenuh, lelah dan kunantikan tenang..

Pagi, siang, sore dan kunantikan malam..

 

Suatu siang di perempatan Kentungan, aku berkeluh kesal karena lampu merah itu menghalangi jalanku, padahal waktu sudah menunjukkan pukul 14.00. Bisa dibayangkan betapa terik matahari menyengat kulitku. Kesal dicampur dengan tugas kuliah yang semakin menumpuk. Rasanya hari itu benar-benar kelam, seluruh tenagaku seakan sudah terkuras habis, dan masih harus ada yang tersisa untuk mengantarkan tubuhku sampai dirumah. Tapi aku cukup puas, hampir bersamaan dengan bangunnya matahari pagi tadi, akupun sudah memulai hari, kuliah sejak pagi, mengerjakan tugas, baca buku di perpustakaan, dan mencari informasi di internet. “Hariku cukup terisi dengan perjuangan!”, batinku bangga.

Yang kunantikan datang, saat warna merah lampu lalu lintas berganti hijau. Hampir bersamaan dengan melajunya sepeda motorku, aku melihat seorang bapak yang kurasa kukenal, ehmmm, siapa ya…sekilas perhatianku tertuju pada sesosok bapak tua, tak kulihat punggungnya, karena dia memanggul tempat tidur kayu.Ya, tempat tidur kayu yang berukuran double. Kuikuti rasa penasaranku dengan mengikuti bapak itu. Rasa penasaran karena seakan aku tak asing dengannya, membuatku nekat menerobos lautan kendaraan untuk dapat menepi dibahu jalan. Kudekati tubuh yang seolah penuh dengan peluh, tapi tak ada rona jenuh ataupun mengeluh yang kudapati saat menatap wajahnya. Aku turun dan memakirkan motorku di depan sebuah toko handphone, ku berlari dan berteriak:”Pak…”, bapak itu menoleh, dan seakan ikut menyapa, terlihat keringat yang mengucur dari dahinya.

Bapak itu, ya, bapak yang menjual kursi lincak (anyaman-red) di rumahku. Di siang itu, aku berbincang dengannya, sambil “menjamu”nya dengan segelas teh dan semangkuk soto.

“ Saya baru saja dari Gentan, yaah,masih belum laku juga nak. Sudah seminggu ini saya angkut tempat tidur ini,” beliau mulai membuka cerita.

Dari gentan? Dan sudah seminggu mengangkut tempat tidur kayu itu? Sudah berapa kilometer, atau bahkan berapa puluh kilometer yang sudah di tempuh dengan beban tempat tidur kayu itu, double lagi. Tanpa bermaksud membandingkan nilai sebuah perjuangan dengan pikiran, tenaga ataupun kemampuan, tapi apa yang sudah kulakukan dan cukup bangga dengan itu untuk dikatakan perjuangan? Berangkat kuliah dengan sepeda motor, tinggal duduk dikursi jok sepeda motor yang empuk, sedikit memainkan gas dan pedal rem, maka sampailah di kampus. Kuliah duduk diruang yang nyaman tanpa terjangan terik matahari, dan itupun hanya beberapa jam. Baca buku di perpustakaan dengan ac yang memanjakan tubuh. Ke internet dan memainkan jari, kerjakan tugas dengan duduk manis di depan monitor komputer. Bapak itu bahkan lebih berjuang. “Perjuanganku belum ada apa-apanya!”batinku malu.

“Kasihan anak-anak, uang jajan sekolahnya kurang terus, apalagi kalau tempat tidur ini semakin lama tidak ada yang beli, uang dapur buat Ibu harus ikut dipotong juga,” lanjutnya bercerita. Nuraniku terisindir keras, tempat tidur di kamarku yang jelas bukan dari kayu, dan memang lebih empuk dan nyaman, juga pastinya lebih mahal. Aku terbayang andai saja bapak ini lewat depan rumahku, dan menawarkan tempat tidur kayu yang diangkutnya, mungkin akan dengan cepat ditolak. Tanpa lebih dulu memberikan waktu sejenak untuk setidaknya melihat dan menghargai keringat dan jerih payah usahanya mengangkut tempat tidur kayu itu. Lebih sering keluargaku tentu memilih datang ke mal atau toko rumah tangga yang besar, memilih tempat tidur yang modern walau lebih mahal, walau mungkin diproduksi oleh pabrik luar negeri yang membuka cabang di Indonesia, dengan pemilik saham, tuan-tuan konglomerat yang jarang mereka adalah pribumi asli atau keturunan dari kakek nenek mereka yang dulu ikut mengangkat senjata mengibarkan merah putih agar dapat berteriak:”Merdeka!”. Sangat mungkin juga dipabrik itu beribu-ribu pemuda pemudi pribumi yang menjadi buruh dengan prosentasi perbandingan penghargaan kerja mereka yang rendah dibandingkan bos-bosnya. Dan lebih mungkin sebagian uang dari harga mahal itu lari ke para pemodal perusahaan, investor asing.

“Bapak sudah coba buka toko buat jual tempat tidur kayu, kursi lincak (anyaman), meja atau lemari. Tapi modalnya kurang, belum lagi orang-orang lebih milih toko yang bagus dan besar, dan barangnya lebih canggih,”cerita lanjutnya. Mungkin Bapak sudah coba pinjam ke bank, prediksiku. Tapi bank mana yang nekat memberikan kucuran dana dengan keadaan Bapak yang tidak punya pekerjaan tetap, penghasilan bulanan ataupun jaminan kekayaan. Atau mungkin Bapak juga bisa minta ke pemerintah untuk modal usaha? Negara macam Indonesia yang bahkan untuk membayar hutangnya juga masih kelabakan, yang pejabatnya korup? Lebih mungkin kalau ada dana semacam itu, tentu akan habis di korupsi. Dan daripada ngurusi seorang bapak tua yang tidak prospektif, dan sangat kecil kontribusinya untuk pemasukan devisa negara, pemerintah jelas lebih sudi berlutut memohon agar investor asing mau menanamkan modal di Indonesia, setidaknya pemasukan kas negara akan bertambah, walau berarti harus mematikan Usaha Kecil Menengah rakyat, apalagi usaha cukup sangat kecil seperti bapak ini, keringat dan tenaganya harus diobral semurah mungkin demi sesuap nasi untuk dapat berhan hidup dan menghidupi keluarga.

Tidak dibayangkan kalau saja aku tidak hanya bertemu Bapak penjual tempat tidur kayu. Tapi juga bertemu Nenek penjual sayur yang selalu berlomba dengan matahari untuk memulai hari pergi ke pasar, dan juga bertemu dengan Ibu pedagang buah di pasar tradisional, atau juga bertemu dengan Bapak petani yang membawa sekarung pupuk dengan sepeda onthelnya, dan entah akan bertemu dengan siapa lagi. Kalaupun bertemu belum tentu aku akan berhenti dan sedikit meluangkan waktu untuk mengobrol, memahami kondisi dan keluh kesah mereka, atau bahkan memasuki kehidupan mereka.

Ditengah arus globalisasi (modernisme) yang tanpa sadar menyeret setiap manusia yang hidup di zamannya, coba melampaui diri sendiri dengan memperhatikan hidup orang lain (sensitivisme) menjadi hal tabu untuk dilakukan, untuk apa seolah menjadi orang lain, hidup sendiri saja belum tentu (individualisme), masa bodoh ada mega mal besar dengan menggusur /mematikan pasar tradisional (liberalisme), untuk apa membandingkan Bapak penjual tempat tidur kayu yang tidak punya modal dengan investor asing (kapitalisme), peduli apa kalau anak Bapak itu suatu saat putus sekolah/tidak bisa melanjutkan studi karena mahalnya biaya pendidikan (Komersialisme), kenapa pula harus mempertimbangkan perjuangan, pengorbanan, nilai atau apapun namanya saat akan membeli barang tertentu (materialisme), dan peduli apa dengan Bapak penjual tempat tidur, Nenek penjual sayur, petani, pedagang atau siapapun(humanisme)?

Aku cukup malu dan tersipu, salut akan apa yang dilakukan Bapak itu, yang mungkin banyak orang akan mengatakan dia ketinggalan zaman, tanpa memberikan kesempatan untuk coba memikirkan mungkin zaman yang telah meninggalkan manusia-manusia seperti mereka. Ataukah memang kehidupan yang tidak berpihak pada hidup mereka? Ataukah memang setiap zaman akan meminta korban sebagai tumbal jayanya suatu peradaban? Ataukah memang seiring cepatnya waktu berlalu, semakin panjang dan tinggi pula kesenjangan terjadi? Ataukah memang industrialisasi dengan majunya teknologi harus membagi manusia pada kelas-kelas yang berbeda strata? Ataukah memang harus cerita ini diakhiri?

“Terima kasih untuk es teh dan sotonya, sudah sore, Bapak harus jalan lagi,,,” kalimat terakhirnya menutup cerita. Sesaat kemudian berlalu sambil memanggul tempat tidur kayu menembus arus lalu lintas yang bergerak cepat. Dari kejauhan aku masih dapat melihat tempat tidur kayu itu berjalan pelan menyusuri jalan, sementara disisi lain jalan, didepan sebuah toko besar, mobil pick-up mengangkut tempat tidur yang bukan dari kayu, melebur dalam arus jalan raya, kemudian diikuti dengan sebuah mobil sedan mewah. Aku pun pergi dengan membawa sebuah cerita, tentang suatu siang di Kentungan.

 

Kemarin, hari ini dan kunantikan esok..

Bayi, anak-anak, remaja, dewasa dan kunantikan tua..

Lahir, besar dan kunantikan mati..

Kesenjangan, diskriminasi, penindasan dan kunantikan keadilan..

by :Elmo

5 Comments »

RSS feed for comments on this post. TrackBack URI

  1. REAL STORY…???
    SALUT !!!

  2. it’s real story bung.. di sebuah perempatan kentungan yogyakarta

  3. hucks
    airmataku hampir berlinang membaca cerita ini
    thx artikelnya lek … jadi buat aq inget kalau masih banyak yang nasibnya lebih tidak beruntung dariku, bersyukur kita masih diberi rezeki🙂

    btw.. sejak kapan kita ngomong serius gini😀

  4. halah…. :d

  5. Halllah!…..
    Pye Tho?
    Ragg Ngenah ogg,…!
    Sngguh …Anehhh!


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Create a free website or blog at WordPress.com.
Entries and comments feeds.

%d bloggers like this: